Rusia Larang Investor Jual Saham Bank dan Proyek Energi

3 hari yang lalu 6

Presiden Rusia Vladimir Putin. Rusia telah melarang capitalist dari negara-negara yang disebut tidak bersahabat untuk menjual saham di proyek-proyek energi utama dan bank-bank hingga akhir tahun.

Foto: AP/Alexey Maishev/Pool Sputnik Kremlin

Presiden Vladimir Putin meneken dekrit larangan penjualan aset asing pada Jumat.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Rusia telah melarang capitalist dari negara-negara yang disebut tidak bersahabat untuk menjual saham di proyek-proyek energi utama dan bank-bank hingga akhir tahun. Ini dinilai meningkatkan tekanan dalam perselisihan sanksi dengan Barat.

Negara-negara Barat dan sekutunya, termasuk Jepang, telah memberlakukan pembatasan keuangan pada Rusia sejak mengirim pasukan ke Ukraina pada akhir Februari. Moskow membalas dengan hambatan untuk bisnis Barat dan sekutu mereka meninggalkan Rusia. Bahkan, dalam beberapa kasus, Rusia menyita aset mereka.

Dekrit yang ditandatangani oleh Presiden Vladimir Putin itu diterbitkan pada hari Jumat (5/8/2022). Dekrit tersebut segera melarang capitalist dari negara-negara yang mendukung sanksi terhadap Rusia untuk menjual aset mereka dalam perjanjian bagi hasil (PSA), bank, entitas strategis, perusahaan yang memproduksi peralatan energi, serta di tempat lain mulai dari produksi minyak dan state hingga batubara dan nikel.

Putin dapat mengeluarkan pengabaian khusus dalam kasus-kasus tertentu agar kesepakatan tetap berjalan, kata dekrit itu. Pemerintah serta slope sentral harus menyiapkan daftar slope untuk persetujuan Kremlin. Keputusan itu tidak menyebutkan nama investor.

Larangan itu mencakup hampir semua proyek keuangan dan energi besar di mana capitalist asing masih memiliki saham, termasuk proyek minyak dan state Sakhalin-1.

Pada hari Kamis (4/8/2022), perusahaan minyak negara Rusia Rosneft menyalahkan Exxon Mobil karena penurunan produksi di kelompok ladang Sakhalin-1. Itu terjadi setelah perusahaan energi utama AS itu mengatakan sedang dalam proses mentransfer 30 persen sahamnya ke pihak lain.

Secara terpisah, sebuah keputusan pemerintah yang ditandatangani pada 2 Agustus memberikan capitalist asing di proyek state alam cair (LNG) Sakhalin-2 - Royal Dutch Shell dan rumah dagang Jepang Mitsui & Co dan Mitsubishi Corp - satu bulan untuk mengklaim saham mereka di entitas baru yang akan menggantikan proyek yang ada.

Exxon menolak berkomentar. Pada Kamis, sebelum larangan, Exxon mengatakan telah membuat kemajuan yang signifikan keluar dari Sakhalin-1 dan bahwa penarikan adalah proses yang kompleks. "Sebagai mantan operator, Exxon memiliki kewajiban untuk memastikan keselamatan orang, perlindungan lingkungan dan integritas operasi," kata juru bicara Casey Norton, Kamis.

Shell sedang mencari opsi untuk menarik diri dari proyek. Sementara, pemerintah Jepang menegaskan kembali keinginannya agar perusahaan Jepang mempertahankan saham mereka di sana.

UniCredit Italia dan Intesa, grup AS Citi dan Raiffeisen Austria terus mencari opsi untuk keluar dari Rusia. Sementara yang lain seperti Societe Generale dan HSBC telah menemukan jalan keluar. 

Citigroup menolak berkomentar, tetapi pada Kamis, perseroan mengatakan dalam pengajuan akan terus mengurangi operasi dan eksposur ke Rusia. Citigroup telah berhenti meminta bisnis baru atau klien baru di Rusia, katanya.

Citigroup mengungkapkan terdapat 8,4 miliar dolar AS dalam eksposur Rusia pada 30 Juni, dibandingkan dengan 7,9 miliar dolar AS pada akhir kuartal pertama. Eksposur meningkat karena kenaikan nilai rubel.

sumber : Reuters

Sumber:

Disclaimer: Semua artikel dan gambar berasal dari sumber resmi yang telah kami cantumkan pada bagian akhir artikel. Jika anda keberatan silakan ajukan penghapusan artikel dengan menghubungi kami melalui email [email protected]