Hingga saat ini, kenaikan harga juga mulai dirasakan di sejumlah kabupaten lain di NTT dengan harga jual mencapai Rp 340 ribu per tabung. (FOTO:Arsip Istimewa).
Manggarai Barat, Arena Berita —
Area Manager Komunikasi PT Pertamina Patra Niaga Jatimbalinusra, Ahad Rahedi menegaskan kondisi stok elpiji secara umum masih aman dan mencukupi. Adapun untuk mengantisipasi kebutuhan di Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk Labuan Bajo, pihaknya akan terus menyalurkan pasokan.
“Hari ini (23/4), kapal dalam proses antrean sandar di Pelabuhan Tenau Kupang membawa 1 kontainer atau 600 tabung. Pekan depan (29/4) akan datang lagi kapal dengan total 4 kontainer atau 2.434 tabung,” kata Ahad dalam keterangan resmi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (24/4).
Di samping itu, Ahad membenarkan adanya penyesuaian harga yang mulai berlaku sejak 18 April lalu.
Menurut Ahad, kenaikan harga dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari penyesuaian biaya ekspedisi akibat eskalasi global dan harga minyak dunia, hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berdampak pada biaya operasional kapal dan transportasi darat.
“Faktor distribusi dan biaya transportasi juga berpengaruh. Karena LPG masih impor, maka pelemahan kurs juga berdampak pada penyesuaian harga solar industri, yang akhirnya berpengaruh ke ongkos distribusi,” ujar Ahad.
Pertamina mengimbau masyarakat untuk membeli langsung di agen atau outlet resmi agar mendapatkan harga yang lebih wajar dibandingkan di tingkat pengecer.
Pihak Pertamina juga akan terus melakukan monitoring dan evaluasi penyaluran agar distribusi berjalan lancar dan harga tetap terkendali.
Sementara itu, keterbatasan dan lonjakan harga gas LPG non-subsidi di Labuan Bajo NTT semakin terasa. Dalam sebulan terakhir, harga tabung ukuran 12 kg melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp 350 ribu per tabung sehingga membebani masyarakat dan pelaku usaha.
Keluhan mulai terdengar pasca Lebaran akhir Maret lalu. Para pedagang dan agen mengaku pasokan dari distributor sangat terbatas, sehingga stok di lapangan sulit didapat dan harga ikut melambung tinggi.
“Kalau biasanya saya ambil 20-40 tabung, sejak habis Lebaran tidak bisa terpenuhi. Kadang dikasih 4, kadang cuma 2,” ujar Ebit pemilik kafe di Labuan Bajo saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Jumat (24/4).
Menurutnya, kelangkaan membuat masyarakat panik dan berbondong-bondong membeli, sehingga stok yang ada cepat habis. “Kalaupun dapat 1-2 tabung yang 12 kg, paling hanya untuk pemakaian sendiri,” tambahnya.
Hal serupa dialami Polce Salestinus, pedagang kios. Ia mengaku harga beli dari agen terus merangkak naik.
“Dulu dapat Rp245 ribu, tiba-tiba naik jadi Rp275 ribu, sekarang sudah Rp325 ribu per tabung. Mau tak mau saya jual jadi Rp350 ribu,” jelasnya pada Jumat (24/4).
Hingga saat ini, lonjakan harga juga mulai dirasakan di sejumlah kabupaten lain di NTT, dengan harga jual berkisar Rp340 ribu per tabung.
Sumber: CNN Indonesia















