Ilustrasi petani Singkong. Foto: Shutterstock
Jakarta, Arena Berita –
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengumumkan harga singkong naik hingga menyentuh Rp 3.000 per kg berkat ditutupnya impor. Menurutnya kenaikan harga ini menguntungkan petani singkong dan membuka peluang Indonesia melakukan ekspor ke luar negeri.
Amran mengatakan kenaikan harga itu terjadi setelah pemerintah menutup impor komoditas. Ia menyebut petani singkong menyambut kenaikan harga di tingkat lapangan.
“Sekarang setelah kita tutup impor, harganya di lapangan kemarin, ini disambut oleh petani singkong, Rp 3.000 per kilo,” ungkap Amran dalam konferensi pers usai Rakor Menko Pangan: Keamanan Pangan di Graha Mandiri, Jakarta Pusat, Senin (26/10).
Ia menambahkan pemerintah bahkan menargetkan ekspor singkong ke luar negeri dalam waktu dekat.
“Bayangkan impor menjadi ekspor dalam waktu singkat. Jadi kesimpulannya, petani diuntungkan, mereka berproduksi, kita swasembada,” pungkasnya.
Stok beras Indonesia Cukup Hingga 10 Bulan ke Depan
Dalam kesempatan yang sama, Amran juga memaparkan perkembangan ketahanan pangan Indonesia, khususnya komoditas beras.
Ia menyebut total ketersediaan beras mencapai sekitar 25 juta ton, yang terdiri dari 10 juta ton standing crop, 10 juta ton untuk kebutuhan hotel, restoran, kafe, rumah tangga, dan sektor lainnya, serta 4,5 juta ton stok di Bulog.
Dengan kebutuhan beras sekitar 2,5 juta ton per bulan, Amran memperkirakan ketersediaan tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga sekitar Juli atau Agustus 2027.
“Kami sampaikan bahwasanya pangan kita khususnya beras, yang menjadi pangan strategis, itu 2 tahun pemerintahan saat ini, swasembada berkelanjutan. Tahun lalu tidak impor, tahun ini juga tidak impor. Insyaallah stok kita aman,” kata Amran.
Upaya Pemerintah Tekan Biaya Produksi Peternak
Selain beras dan singkong, Amran juga memaparkan upaya pemerintah menjaga harga telur ayam melalui penyediaan bahan baku pakan bagi peternak. Ia mengatakan pemerintah menyalurkan kedelai (soybean) langsung kepada peternak dengan harga lebih rendah dibandingkan harga dari pihak swasta.
“Solusi yang kami lakukan, yang jangka pendek kepada peternak, pertama SPHP, kemudian pemerintah yang membeli pakan: soybean itu langsung ke peternak harganya Rp 8.630 per kilo, sedangkan swasta Rp 10.000, Rp 11.000, Rp 12.000,” ujar Amran
Menurutnya kebijakan tersebut dapat membantu menekan biaya produksi peternak karena pemerintah mengimpor kedelai untuk kemudian disalurkan dengan harga lebih rendah.
Selain kedelai, pemerintah juga menyalurkan jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk peternak kecil. Jagung tersebut diberikan dengan subsidi pemerintah agar dapat membantu meringankan biaya pakan.
“Ada juga SPHP dari Bulog, sudah dibagikan, yaitu jagung yang diberikan kepada peternak kecil, dengan disubsidi pemerintah,” katanya.
Amran turut menyampaikan rencana pembangunan pabrik untuk memproduksi tepung telur di dalam negeri bersama badan usaha milik negara (BUMN). Langkah ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan pada impor telur dan tepung telur dari negara lain.
“Rencana kita, karena ada impor. Impor tepung telur dari negara lain, insyaallah kita akan bangun satu tahun, kami bersama BUMN, itu kita akan bangun, dan tidak terlalu mahal pabriknya, itu satu tahun sudah selesai, impornya nanti kita kurangi,” tutup Amran.
Sumber: kumparan














