Jalarta, Arena Berita –
Ketergantungan Indonesia terhadap impor dinilai masih menjadi persoalan besar yang harus segera dibenahi pemerintah, terutama di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).
Analis ekonomi politik Kusfiardi menilai pemerintah perlu lebih terbuka kepada publik mengenai tantangan ekonomi yang sedang dihadapi, termasuk tingginya kebutuhan devisa untuk membiayai impor dan kewajiban pembayaran utang.
Menurutnya, pemerintah perlu menjelaskan secara konkret langkah-langkah yang akan ditempuh untuk mengurangi ketergantungan terhadap barang impor, mulai dari pangan hingga sektor energi.
“Jelaskan pemerintah berkomitmen menjalankan apa dan bagaimana caranya supaya tidak bergantung pada barang impor,” ujarnya di kanal Youtube Abraham Samad, Senin, 8 Juni 2026.
Kusfiardi mengingatkan bahwa kebutuhan devisa Indonesia masih sangat besar. Selain untuk impor energi seperti BBM dan gas, pemerintah juga membutuhkan dolar AS untuk membayar kewajiban utang luar negeri serta berbagai kebutuhan impor lainnya.
Menurut Kusfiardi, persoalan semakin kompleks karena banyak sektor industri dalam negeri masih bergantung pada bahan baku impor.
“Kita memang bisa berproduksi di dalam negeri, tetapi komponen impornya masih sangat tinggi. Dalam sektor manufaktur, sebagian besar kegiatan produksi masih membutuhkan bahan baku dari luar negeri. Akibatnya, ketika kita ekspor, nilai tambah yang diperoleh tidak terlalu besar,” pungkasnya.
Sumber: RMOL















