Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. (CNN Indonesia/Dela Naufalia Fitriyani).
Jakarta, Arena Berita —
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/ AI) sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Karenanya, pemerintah akan membangun infrastruktur dan ekosistem digital agar adopsi teknologi ini dapat dimanfaatkan di Tanah Air.
Airlangga menegaskan percepatan transformasi digital dan adopsi teknologi AI ini menjadi prioritas krusial di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto karena sifatnya yang efisien dan tidak terikat oleh kerentanan jalur logistik fisik dunia.
“Mengapa transformasi digital itu penting? Karena transformasi digital tidak perlu melewati Selat Hormuz. Jadi kita bisa mempercepat transformasi digital tersebut,” ujar Airlangga dalam acara Kadin Diplomatic Economic Breakfast di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (10/7).
Airlangga juga memastikan pemerintah bekerja sama secara strategis di hulu ekosistem digital, salah satunya dengan mengajak kolaborasi raksasa teknologi asal Inggris, Arm.
“Terkait dengan AI, itu kuncinya dari ekosistem digital. Indonesia sendiri untuk pengembangan semikonduktor sedang mengajak mitra yang namanya Arm, untuk menguasai hampir lebih dari 90 persen daripada pengembangan chip design. Dan ini didorong untuk melakukan training 15.000 teknisi maupun engineer dalam Arm ecosystem,” jelasnya.
Airlangga membeberkan kapasitas pusat data terpasang di Indonesia saat ini telah mencapai 580 Megawatt (MW) dengan komitmen investasi baru yang masuk dalam antrean (pipeline) melonjak hingga 1,3 Gigawatt (GW).
Daya tarik investasi digital ini diperkuat oleh kesiapan gerbang transmisi kabel fiber optik, mulai dari jalur Batam-Singapura hingga Bitung yang langsung terhubung ke Amerika Serikat.
Langkah pemerintah ini sekaligus menjawab kekhawatiran Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia terkait ketimpangan arus modal global saat ini.
Kadin menyoroti investasi dunia yang tengah tersedot secara masif dan menumpuk di segelintir perusahaan raksasa teknologi, khususnya di sektor infrastruktur AI dan semikonduktor.
Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia James Riady mengatakan fenomena konsentrasi modal global tersebut.
Ia mencontohkan bagaimana dana global berebut masuk ke IPO SpaceX hingga rencana penawaran saham perdana SK Hynix yang mengalami kelebihan pemesanan (oversubscribed) berlipat gajah.
“Uang terus mengalir ke Amerika Serikat dan ke sejumlah kecil perusahaan teknologi: infrastruktur AI, semikonduktor, pusat data, dan kapasitas komputasi. Terjadi konsentrasi modal yang sangat besar,” ungkap James.
Menurut James, tantangan terbesar bagi Indonesia saat ini adalah bagaimana agar tidak sekadar menjadi penonton atau konsumen di tengah revolusi teknologi tersebut. Indonesia harus mampu mengambil peran strategis sebagai produsen dan bagian penting dari rantai nilai global (global value chain).
Namun, dengan kepastian infrastruktur digital yang dipaparkan pemerintah, James membocorkan Indonesia kini tengah bersiap menerima guyuran modal digital bernilai fantastis dari investor global ke tanah air.
“Ke depan ini mengenai artificial intelligence akan merupakan satu center stage untuk Indonesia. Bahkan nanti akan ada puluhan miliar dolar yang masuk membangun computing center, membawa chip-chip-nya GPU yang paling advanced ke sini,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie menambahkan bahwa pihaknya siap menjadi jembatan strategis untuk menerjemahkan kesepakatan teknologi tingkat tinggi ini menjadi investasi nyata dan lapangan kerja di daerah.
“Rantai pasok, arus investasi, kebijakan industri, teknologi, ketahanan energi, ketahanan pangan, dan geopolitik sekarang bergerak bersama-sama. Bagi Indonesia, ini berarti diplomasi ekonomi tidak lagi dapat dipisahkan dari dunia usaha. Hubungan antarpemerintah (G2G) membutuhkan eksekusi antarbisnis (B2B) di baliknya,” ujar Anindya.
Sumber: CNN Indonesia














