Imigran yang berupaya masuk ke wilayah Ceuta, Spanyol di Afrika Utara. Foto: EFE
Ceuta, Arena Berita –
Pemerintah Spanyol mengerahkan pasukan untuk memperkuat pengamanan di wilayah kantong Ceuta, Afrika Utara, setelah ribuan migran berenang dari Maroko menuju wilayah tersebut pada Kamis, 30 Juli 2026.
Sedikitnya 15 orang dilaporkan tewas tenggelam saat berupaya mencapai Ceuta. Otoritas setempat sebelumnya telah meminta bantuan pemerintah pusat menyusul meningkatnya upaya penyeberangan dalam beberapa hari terakhir.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan angkatan bersenjata akan membantu Garda Sipil menjaga keamanan di Ceuta.
“Angkatan bersenjata akan memperkuat Garda Sipil dalam menjalankan kewenangannya serta tugas lain yang diperlukan untuk menjaga keamanan di Kota Ceuta,” demikian pernyataan kementerian, dikutip dari BBC, Jumat, 31 Juli 2026.
Awal bulan ini, Mahkamah Agung Spanyol memutuskan bahwa migran yang dihentikan di laut saat berusaha mencapai Ceuta atau Melilla tidak dapat langsung dipulangkan ke Maroko.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menuduh jaringan penyelundupan manusia memanfaatkan putusan tersebut untuk mendorong arus migran tanpa dokumen.
Menurut laporan Reuters, media Spanyol memperkirakan antara 2.000 hingga 3.000 migran memasuki Ceuta pada Kamis. Namun, Garda Sipil belum mengonfirmasi jumlah tersebut.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez dijadwalkan mengunjungi Ceuta pada Jumat dan berjanji segera memulihkan situasi.
Pusat-pusat penampungan migran di Ceuta dilaporkan kewalahan menampung para pendatang baru. Pemimpin Ceuta, Juan Jesús Vivas, mendesak pemerintah pusat segera mengambil langkah tambahan untuk mengatasi situasi tersebut.
Gelombang migran juga memicu ketegangan diplomatik dengan Italia. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan pemerintahnya sedang mempertimbangkan “langkah-langkah luar biasa”, termasuk kemungkinan menangguhkan penerapan perjanjian Schengen dengan Spanyol.
Menteri Luar Negeri Spanyol José Luis Albares menanggapi pernyataan tersebut dengan menuduh Italia mempolitisasi isu imigrasi. Ia mengatakan komentar itu tidak pantas disampaikan oleh negara sahabat yang seharusnya menunjukkan solidaritas Eropa.
Saksi kepada Reuters mengatakan otoritas Maroko menggunakan meriam air untuk menghalau migran di Kota Fnideq yang berbatasan dengan Ceuta. Sementara itu, media lokal dan organisasi hak asasi manusia melaporkan bentrokan juga terjadi di perlintasan perbatasan Beni Ansar, Melilla.
Lonjakan migran kali ini mengingatkan pada peristiwa Mei 2021, ketika sekitar 8.000 orang memasuki Ceuta hanya dalam beberapa hari dan memicu ketegangan diplomatik antara Spanyol dan Maroko.
Sumber: MetroTV















