Kolesterol tinggi bisa turun tanpa statin, ilmuwan temukan cara baru yang menjanjikan (Foto dibuat oleh AI)
Arena Berita –
Kabar baik bagi penderita kolesterol tinggi. Para ilmuwan menemukan pendekatan baru yang berpotensi menurunkan kolesterol jahat (LDL) tanpa harus mengandalkan obat statin. Temuan ini membuka harapan baru, terutama bagi pasien yang tidak cocok atau mengalami efek samping dari terapi konvensional tersebut.
Dalam studi terbaru, peneliti menggunakan molekul kecil berbasis DNA untuk menurunkan kadar LDL hingga hampir 50 persen pada model hewan. Hasil ini dinilai cukup signifikan, terlebih karena tidak menunjukkan efek samping yang umum terjadi pada penggunaan statin, seperti nyeri otot atau gangguan hati.
Penelitian ini dipimpin oleh Carles J. Ciudad dan Veronica Noe dari University of Barcelona, bekerja sama dengan Nathalie Pamir dari University of Oregon, dan dipublikasikan dalam jurnal Biochemical Pharmacology, dikutip dari NDTV pada Rabu, 6 Mei 2026.
Kolesterol LDL dikenal sebagai ‘kolesterol jahat’ karena dapat memicu penumpukan plak lemak di pembuluh darah. Kondisi ini menjadi faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke. Selama ini, statin menjadi terapi andalan untuk menurunkan kolesterol. Namun, tidak semua pasien dapat mentoleransinya dengan baik.
Pendekatan baru ini bekerja dengan cara yang berbeda. Alih-alih menghambat produksi kolesterol di hati seperti statin, terapi ini menargetkan protein bernama PCSK9. Protein ini berperan dalam mengatur jumlah reseptor LDL di hati yang bertugas membersihkan kolesterol dari darah.
Jika kadar PCSK9 terlalu tinggi, kemampuan tubuh untuk membuang kolesterol jahat akan menurun. Akibatnya, LDL tetap tinggi dalam aliran darah.
Untuk mengatasi hal tersebut, peneliti mengembangkan molekul DNA kecil yang disebut polypurine hairpins (PPRH). Molekul ini bekerja dengan ‘membungkam’ gen yang memproduksi PCSK9, sehingga produksinya menurun.
Dengan begitu, lebih banyak reseptor LDL tetap aktif di hati dan mampu membersihkan kolesterol dari darah secara lebih efektif.
Dalam uji laboratorium pada sel hati manusia, salah satu molekul yang diteliti, HpE12, mampu menurunkan kadar RNA PCSK9 hingga 74 persen dan protein PCSK9 hingga 87 persen.
Sementara itu, pada uji coba hewan, satu kali suntikan HpE12 berhasil menurunkan kadar PCSK9 dalam darah hingga 50 persen dan kolesterol total hampir 47 persen hanya dalam waktu tiga hari.
Temuan yang Menjanjikan untuk Pasien Kolesterol Tinggi
“HpE12 menunjukkan efektivitas yang sangat tinggi. Pada model tikus, satu suntikan saja sudah mampu menurunkan kadar PCSK9 dan kolesterol secara signifikan dalam waktu singkat,” kata Profesor Veronica Noe.
Temuan ini dinilai menjanjikan karena terapi bekerja di tingkat genetik, bukan sekadar menghambat proses biologis seperti obat pada umumnya. Selain itu, terapi ini berpotensi tidak perlu diberikan setiap hari, sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam jangka panjang.
Keunggulan lain dari pendekatan ini adalah profil keamanannya. Karena tidak mengganggu jalur produksi kolesterol secara langsung, risiko efek samping seperti yang sering terjadi pada statin diperkirakan lebih rendah.
Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa hasil ini masih berada pada tahap awal. Uji klinis pada manusia dalam skala besar masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya sebelum benar-benar bisa digunakan secara luas.
Jika hasilnya konsisten, terapi berbasis DNA ini berpotensi menjadi alternatif penting bagi pasien dengan kolesterol tinggi, terutama mereka yang tidak dapat menggunakan statin atau belum mencapai target pengobatan.
Dengan perkembangan ini, masa depan penanganan kolesterol tampaknya akan semakin personal dan berbasis teknologi, memberikan harapan baru bagi jutaan orang di seluruh dunia.
Sumber: Liputan6















