Arena Berita –
Gejala awal kanker sering kali sulit dikenali karena mirip dengan keluhan ringan yang umum terjadi sehari-hari. Namun, penelitian terbaru menunjukkan ada petunjuk penting yang mungkin selama ini luput diperhatikan, yakni dari feses atau tinja.
Temuan tersebut muncul dalam penelitian mengenai kanker pankreas, salah satu jenis kanker yang dikenal sulit dideteksi pada tahap awal. Para ilmuwan menemukan bahwa perubahan pada bakteri usus yang terekam dalam feses dapat menjadi petunjuk adanya kanker bahkan sebelum gejala berat muncul.
Kanker Pankreas Sering Terlambat Terdeteksi
Dikutip dari Science Alert, kanker pankreas jenis pancreatic ductal adenocarcinoma (PDAC) merupakan bentuk kanker pankreas yang paling umum ditemukan.
Kanker ini tumbuh di saluran pankreas yang terhubung langsung dengan usus kecil. Karena hubungan tersebut, perubahan yang terjadi pada pankreas dapat meninggalkan jejak biologis di dalam saluran pencernaan dan akhirnya muncul dalam feses.
Selama ini, kanker pankreas kerap baru terdiagnosis ketika pasien mengalami keluhan seperti kelelahan berkepanjangan, gangguan metabolisme energi, penurunan kondisi tubuh, atau nyeri yang tidak jelas penyebabnya.
Masalahnya, gejala-gejala tersebut sering dianggap tidak berbahaya sehingga banyak pasien baru mengetahui penyakitnya ketika sudah memasuki stadium lanjut.
Apa yang Bisa Dilihat dari Feses?
Peneliti menemukan bahwa bukan bentuk atau warna feses yang menjadi fokus utama, melainkan kandungan bakteri di dalamnya.
Melalui analisis sampel feses menggunakan teknologi sekuensing genetik 16S rRNA, ilmuwan dapat mengidentifikasi jenis dan jumlah bakteri yang hidup di usus seseorang.
Hasil penelitian menunjukkan pengidap kanker pankreas memiliki komposisi mikrobioma usus yang berbeda dibandingkan orang sehat.
Salah satu temuan utamanya adalah keragaman bakteri usus yang jauh lebih rendah pada pasien kanker pankreas.
Perubahan pola bakteri tersebut bahkan dapat membentuk semacam ‘sidik jari biologis’ yang membedakan pengidap kanker dengan individu sehat.
Dalam studi internasional yang melibatkan peneliti dari Finlandia dan Iran pada 2025, pola bakteri dalam feses digunakan untuk melatih model kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Hasilnya cukup menjanjikan. Sistem AI tersebut mampu mengidentifikasi pasien kanker pankreas hanya berdasarkan profil mikrobioma usus yang diperoleh dari sampel tinja.
Sumber: detik















