Home / Daerah / Fenomena ‘Salju’ Embun Upas di Gunung Bromo Ternyata Rusak Vegetasi Tanaman

Fenomena ‘Salju’ Embun Upas di Gunung Bromo Ternyata Rusak Vegetasi Tanaman

Fenomena embun upas yang muncul di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Foto: Humas BB-TNBTS/istimewa

Arena Berita –

Fenomena embun upas atau ‘salju’ di Gunung Bromo yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ternyata memberi dampak negatif kepada tanaman. Pasalnya, embun upas yang menyelimuti tanaman di TNBTS akan membuat tanaman mengering hingga mati.

Kepala BB-TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengakui sedikit banyak fenomena frost atau embun upas berpengaruh ke vegetasi di kawasan taman nasional. ‘Salju’ ini akan membuat dedaunan dan tanaman bisa kering.

“Sedikit banyak berdampak terhadap beberapa vegetasi yang ada di sekitar ditemukannya embun upas. Daun-daun dan tanaman itu bisa menjadi kering karena terkena dari es, dinginnya es dari embun upas tersebut,” kata Rudijanta Tjahja Nugraha, saat dikonfirmasi Rabu (1/7).

Bahkan, katanya, tak menutup kemungkinan vegetasi tanaman itu bisa mati akibat kering. Hal ini yang membuat embun upas dinilai merugikan masyarakat yang bercocok tanam di area taman nasional.

“Karena ketika terjadi embun upas, bisa menyebabkan kematian dari tumbuhan yang terkena embun upas tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, fenomena embun upas atau frost sejauh ini ditemukan di Laut Pasir, Pusung Gedhe, serta Savana Lembah Watangan. Sedangkan, di kawasan Semeru, fenomena ini kerap dijumpai di Desa Ranupani dan sekitar Ranu Kumbolo. Hal ini karena kawasan ini berada di ketinggian di atas 2.000 MDPL.

“Tidak cuma di Bromo, tapi juga sekitar Ranupani, Ranu Kumbolo, dan di daerah-daerah yang sangat dingin, yang berada di dalam kawasan TNBTS bisa timbul embun upas, atau lapisan es yang terjadi dari embun yang membeku yang sangat dingin,” tukasnya.

Baca Lagi  Wujud Empati Kepada Masyarakat, Wali Kota Tebing Tinggi Kunjungi Keluarga Pedagang Pasar Gambir dan Pasien RSUD

Sebelumnya, area kawasan Gunung Bromo mulai muncul embun upas disebabkan adanya angin muson timur yang berembus dari Benua Australia, hal ini membuat suhu udara di Gunung Bromo cukup dingin. Bahkan di beberapa waktu suhu udara di TNBTS mencapai 5 derajat. Hal ini yang disebut membuat embun upas atau frost yang menyerupai salju muncul.

Fenomena embun upas terjadi ketika suhu udara cukup dingin berkisar antara 5 sampai 9 derajat celsius, dan hanya dijumpai pada pagi hari atau sebelum matahari terbit dengan sempurna. Embun upas akan menghilang saat matahari mulai meninggi.

Diprediksi fenomena embun upas ini akan mudah dijumpai hingga Agustus mendatang, mengingat ini belum puncak dari musim kemarau. Sesuai prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca cenderung lebih dingin karena adanya penurunan suhu yang ekstrem.

Sumber: kumparan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *