Tak berbau dan tak berwarna, karbon monoksida menyimpan bahaya mematikan yang sering luput disadari. (Liputan6.com/ Agustin Setyo Wardani)
Arena Berita –
Karbon monoksida kembali menjadi perhatian setelah dugaan keracunan gas tersebut muncul dalam kasus meninggalnya satu keluarga saat berkemah di Temanggung, Jawa Tengah. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa karbon monoksida merupakan ancaman serius yang dapat merenggut nyawa tanpa disadari korbannya.
Karbon monoksida atau CO dikenal sebagai ‘pembunuh senyap’ karena memiliki karakteristik yang sulit dideteksi oleh indera manusia. Menurut Ketua Health Collaborative Center (HCC), Dr. Ray Wagiu Basrowi, gas ini tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak menimbulkan iritasi.
Akibatnya, seseorang bisa menghirup karbon monoksida dalam jumlah berbahaya tanpa menyadari bahwa dirinya sedang berada dalam situasi yang mengancam keselamatan. Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa bahaya karbon monoksida tidak hanya terletak pada sifatnya yang sulit dikenali, tapi juga pada cara gas ini bekerja di dalam tubuh.
“Setelah terhirup, karbon monoksida akan masuk ke aliran darah dan berikatan dengan hemoglobin, protein yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh,” kata Ray dikutip dari unggahan di akun Instagram HCC Indonesia, @hcc.indonesia pada Senin, 1 Juni 2026.
Merujuk dari berbagai sumber ilmiah, Ray mengatakan karbon monoksida memiliki daya ikat terhadap hemoglobin sekitar 200 hingga 250 kali lebih kuat dibandingkan oksigen. Kondisi ini membuat hemoglobin lebih mudah mengikat karbon monoksida daripada oksigen yang dibutuhkan tubuh.
Akibatnya, meskipun seseorang masih berada di lingkungan yang memiliki udara dan masih bisa bernapas, organ-organ vital seperti otak dan jantung mulai mengalami kekurangan oksigen. Dalam kondisi tersebut, lanjut Ray, korban sering kali tidak langsung kehilangan kesadaran.
“Mereka biasanya hanya merasakan gejala ringan yang tampak sepele sebelum akhirnya tertidur,” ujarnya.
Inilah alasan karbon monoksida disebut sebagai pembunuh senyap. Banyak korban tidak menyadari bahwa tubuhnya sedang mengalami kekurangan oksigen karena gejala yang muncul pada tahap awal sangat mirip dengan keluhan kesehatan sehari-hari.
Gejala yang Harus Dipahami
Gejala keracunan karbon monoksida umumnya berupa sakit kepala, pusing, mual, tubuh terasa lemas, mengantuk secara tidak biasa, sulit berkonsentrasi, hingga jantung berdebar. Karena gejala tersebut sering dianggap sebagai tanda kelelahan atau kurang istirahat, banyak orang tidak segera mencari pertolongan.
Padahal, jika paparan karbon monoksida terus berlangsung, kondisi korban dapat memburuk dengan cepat. Pasokan oksigen ke otak akan semakin berkurang sehingga menyebabkan penurunan kesadaran, kerusakan organ, hingga kematian.
Kasus keracunan karbon monoksida dapat terjadi di berbagai lokasi, terutama pada area dengan ventilasi yang buruk. Tenda camping tertutup menjadi salah satu tempat yang memiliki risiko tinggi, terutama jika terdapat sumber pembakaran di dalam atau di sekitar tenda.
Selain itu, mobil yang mesinnya menyala di dalam garasi, ruang genset, penginapan dengan sirkulasi udara yang minim, ruang mesin kapal, sumur, serta ruangan tertutup yang menggunakan arang atau alat pembakaran juga dapat menjadi lokasi terjadinya penumpukan gas karbon monoksida.
Karena bahayanya yang tidak terlihat, upaya pencegahan menjadi langkah yang sangat penting. Masyarakat diimbau untuk tidak menggunakan arang atau alat pemanggang di dalam tenda maupun ruangan tertutup.
Tidur di dalam mobil dengan mesin menyala juga perlu dihindari karena dapat meningkatkan risiko paparan karbon monoksida.
Selain itu, penggunaan genset sebaiknya dilakukan di area terbuka dengan sirkulasi udara yang baik. Ventilasi ruangan juga perlu dipastikan berfungsi optimal agar gas berbahaya tidak terakumulasi di dalam ruangan.
Sumber: Liputan6














