Kementan menjelaskan tingginya kebutuhan susu nasional masih belum sejalan dengan kemampuan produksi dalam negeri. (FOTO:CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, Arena Berita —
Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkap sekitar 75 persen kebutuhan susu nasional saat ini masih dipenuhi melalui impor.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun menjelaskan tingginya kebutuhan susu nasional masih belum sejalan dengan kemampuan produksi dalam negeri. Akibatnya, Indonesia hingga kini masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan susu masyarakat.
“Sebagaimana kita ketahui produksi kita itu lebih kurang sekitar 25 persen susu dalam negeri, sisanya artinya 75 persen masih impor,” kata dia dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Selasa (2/6).
Menurut Makmun, kondisi tersebut menjadi alasan pemerintah terus mendorong peningkatan populasi sapi perah dan produktivitas peternakan dalam negeri. Upaya tersebut dilakukan agar pasokan susu dari peternak dalam negeri terus bertambah sehingga ketergantungan terhadap produk impor bisa berkurang.
Ia mengatakan salah satu upaya yang dilakukan adalah mendatangkan sapi bunting dari luar negeri. Sepanjang tahun lalu, Indonesia tercatat mengimpor hampir 15 ribu ekor sapi bunting, yang disebut sebagai jumlah terbesar dalam sejarah impor sapi perah nasional.
“Alhamdulillah dengan bantuan teman-teman industri, teman-teman para peternak, tahun lalu kita mengimpor sapi bunting itu sekitar hampir 15 ribu. Itu terbesarlah sepanjang sejarah kita mengimpor sapi,” ujarnya.
Menurut dia, sebagian besar sapi tersebut kini telah melahirkan anak. Jika separuh dari anak yang lahir berjenis kelamin betina, maka akan tersedia lebih dari 7.000 calon indukan baru yang dapat mendukung regenerasi populasi sapi perah nasional.
Saat ini, populasi sapi perah Indonesia tercatat sekitar 540.657 ekor. Sementara untuk mencapai swasembada susu, pemerintah memperkirakan dibutuhkan populasi sekitar 2 juta ekor sapi perah.
“Ini target kalau mau swasembada lebih kurang kita butuh sapi itu sekitar populasi 2 juta. Dari sekarang 540 ribu ekor, berarti masih sekitar 1 juta lebih yang kita perlukan,” kata Makmun.
Iia menekankan peningkatan populasi bukan satu-satunya solusi. Produktivitas susu per ekor juga perlu ditingkatkan agar target swasembada dapat dicapai lebih cepat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) rata-rata produksi susu sapi perah nasional masih sekitar 12,5 liter per ekor per hari. Angka tersebut dinilai masih tertinggal dibanding sejumlah negara produsen susu utama yang mampu menghasilkan lebih dari 30 liter per hari per ekor.
“Kalau di negara-negara lain produksinya ada di atas 30 liter per hari per ekor, kita ingin produktivitas peternak kita yang saat ini masih di bawah 20 liter per hari per ekor itu meningkat menjadi di atas 20 liter, mudah-mudahan bisa 25 liter per hari per ekor,” ujarnya.
Makmun menjelaskan peningkatan produktivitas akan dilakukan melalui sejumlah program perbaikan, mulai dari kualitas pakan hingga kesehatan ternak.
Menurut dia, perbaikan konsumsi pakan hijauan dan konsentrat secara bertahap dapat meningkatkan produksi susu. Selain itu, pemerintah juga memperkuat upaya pencegahan penyakit hewan, termasuk Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yang sempat menekan produktivitas peternak.
“Kemudian perbaikan dari sisi kesehatan hewannya, sehingga betul-betul hewan kita terjaga sehat. Sekarang kami juga menyediakan vaksin khususnya untuk sapi perah secara 100 persen, sehingga tidak ada lagi yang terdampak dengan PMK,” kata Makmun.
Sumber: CNN Indonesia















