Home / Kesehatan / Kurang Minum saat Marathon Bisa Berakibat Fatal

Kurang Minum saat Marathon Bisa Berakibat Fatal

Water station. Foto: Getty Images/Canetti

Jakarta, Arena Berita – 

Banyak pelari yang baru mencari minum saat tubuh sudah merasa sangat lelah atau kehausan di tengah lintasan. Padahal, kebiasaan menunda minum saat mengikuti race besar, seperti Jakarta Running Festival (JRF) 2026, bisa berdampak fatal bagi performa dan fisik pelari.

Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengingatkan bahwa minum air tidak boleh menunggu tubuh merasa capek atau haus. Jika baru minum saat kondisi fisik merosot, sebenarnya itu sudah terlambat.

“Jangan dong kita nunggu capek. Kalau misalnya nunggu sudah capek itu sudah telat, nanti keburu habis energinya,” tutur dr Yaze dalam live TikTok detikHealth, Kamis (22/10/2026).

dr Yaze membeberkan strategi waktu yang tepat untuk minum, agar kadar mineral dalam tubuh tetap optimal sepanjang jalur race. Langkah pertama harus dimulai bahkan sebelum bendera start dikibarkan atau flag off.

“Jadi kalau bisa sebelum mulai race itu sudah dicukupi dulu kebutuhan cairannya. Terus pada saat race juga jangan nunggu sampai sudah capek, sudah kunang-kunang baru cari minuman, itu telat juga,” kata dr Yaze.

“Jadi ketika ada water station, ya udah kita minum juga di situ walaupun cuma sedikit,” lanjutnya.

Setelah finish, proses pemulihan cairan tubuh wajib dilanjutkan. Mengingat banyaknya cairan dan energi yang terkuras selama berlari, asupan air minum ber-mineral alami sangat dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan fisik.

“Setelah selesai race juga harus minum lagi air yang mengandung mineral. Jadi walaupun Sudah selesai race-nya, pasti tetap harus diganti cairan yang tadi sudah hilang ketika kita lagi lari. Itu banyak banget keluar cairan tubuh,” tambah dr Yaze.

Baca Lagi  Menteri Kesehatan Targetkan RI Produksi 10 Ribu Dokter Spesialis Tiap Tahun

Ia menegaskan bahwa kekurangan cairan tidak hanya memicu kelelahan fisik, tetapi juga mengganggu fungsi kognitif hingga menyebabkan kelumpuhan sementara pada otot.

“Terus energi juga butuh cairan. Kalau misalnya nggak ada cairan, terjadi dehidrasi yang malah akhirnya capek nih tubuh kita buat dipakai untuk berpikir, buat jalan. Makanya kalau kekurangan cairan tuh benar-benar kram ototnya kayak di-semen, benar-benar sudah nggak mau bergerak,” jelasnya.

Sumber: detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *