Foto: REUTERS/Abdel Hadi Ramahi
Arena Berita –
Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memukul keras sektor pariwisata di Uni Emirat Arab (UEA). Akibat menurunnya angka turis yang masuk, Dubai meluncurkan berbagai insentif baru untuk menghidupkan kembali sektor pariwisatanya.
Salah satu program terbaru bertajuk “A Dubai Invite” menawarkan paket hadiah senilai hingga 3.000 dirham Uni Emirat Arab (AED) atau sekitar US$816 (sekitar Rp14,7 juta, kurs Rp18.078/US$) bagi warga dan penduduk UEA yang berhasil mengajak keluarga atau teman berkunjung ke Dubai.
Program yang diluncurkan pada Juli 2026 itu memungkinkan setiap warga berusia minimal 18 tahun dengan Emirates ID yang masih berlaku untuk mengundang hingga tiga tamu. Wisatawan yang direkomendasikan dapat menikmati berbagai keuntungan, mulai dari diskon hotel hingga penawaran makan, untuk perjalanan yang dilakukan hingga 31 Oktober 2026.
Tamu yang diundang harus merupakan warga negara asing yang bukan penduduk UEA, memiliki visa turis yang masih berlaku, dan datang melalui jalur udara, laut, maupun darat.
“Di saat koneksi personal dan kepercayaan semakin penting dalam keputusan bepergian, ‘A Dubai Invite’ menunjukkan daya tarik utama kota ini, yaitu masyarakat yang tinggal di dalamnya dan menyambut keluarga maupun teman untuk merasakan langsung pengalaman di Dubai,” kata AVP Special Projects & MENA Dubai Department of Economy and Tourism (DET), Noor Al Geziry dikutip dari CNN International, Selasa (29/7/2026).
Program tersebut muncul hanya beberapa bulan setelah Dubai mencatat rekor baru sektor pariwisata. Pada 2025, UEA menerima 19,59 juta wisatawan internasional, tertinggi sepanjang sejarah.
Namun situasi berubah drastis setelah perang AS dan Israel melawan Iran memicu serangan rudal ke Dubai pada Maret 2026. Tingkat okupansi hotel yang sebelumnya mencapai sekitar 80% diperkirakan turun hingga 10% pada bulan-bulan setelah serangan tersebut.
Pemerintah Dubai pun mengambil berbagai langkah untuk memulihkan industri pariwisata, termasuk menghapus pajak hotel malam untuk hotel-hotel kelas atas serta mencabut pungutan pemerintah daerah sebesar 7% yang sebelumnya dikenakan pada tagihan hotel dan restoran.
Meski sebagian besar rudal berhasil dicegat, sejumlah bangunan ikonik tetap mengalami kerusakan, termasuk Fairmont The Palm dan Jumeirah Burj Al Arab, yang kini menjalani program restorasi selama 18 bulan.
Bandara Internasional Dubai juga sempat ditutup sementara pada Maret lalu. Sejumlah maskapai, termasuk British Airways dan Emirates, sempat menghentikan penerbangan menuju Dubai.
Pengamat kawasan Teluk dari European Council on Foreign Relations, Cinzia Bianco menilai, tantangan terbesar Dubai saat ini bukan hanya memperbaiki kerusakan fisik, melainkan memulihkan citra sebagai destinasi yang aman.
“Ini adalah mimpi buruk terbesar Dubai karena identitas kota ini dibangun sebagai oasis yang aman di kawasan yang penuh konflik,” tulis Bianco melalui akun X.
Senada, Founder dan CEO Gates Hospitality, Naim Maadad mengatakan, tantangan utama yang dihadapi Dubai saat ini lebih bersifat psikologis. Menurutnya, banyak wisatawan internasional masih memandang Timur Tengah sebagai satu kawasan tanpa membedakan kondisi keamanan masing-masing negara, sehingga konflik yang terjadi di satu negara ikut memengaruhi keputusan bepergian ke negara lain.
Meski demikian, ia menegaskan infrastruktur, hotel, restoran, objek wisata, serta operasional bandara di Dubai kini telah kembali berfungsi normal.
Sumber: CNBC Indonesia















